Friday, May 18, 2012

...secangkir sarbat dingin

 
Jika aku memang sahabatmu,
perlakukanlah aku selayaknya seorang sahabat
sajikanlah aku sarbat dingin ini untuk kita nikmati bersama,
lantas sajian ini pastinya
memang punya pelbagai citarasa,
kekadang  manis kekadang pahit,
namun  harumnya  semerbak menusuk jiwa....
manis, pahitnya bersulam tenangnya yang dirasa.

Jika kau anggap aku sahabatmu,

jangan kau perlakukan aku bagaikan sebatang rokok
hanya akan kau nikmatinya di saat kau inginkan,
setelah abunya bertebaran asap berserakan
puntungnya akan kau campakkan jauh dari pandangan
kini kau takkan perlu lagi rokok yang telah menjadi puntung...
lantaran kau masih boleh menghisap batang-batang rokok yang lain,
yang menyediakan diri untuk kau hisap sedalam-dalam asapnya
yang membiarkan diri untuk kau hembus keluarkan kepulan asapnya
dan akhirnya aku pasti sekali
akan kau campakkan kembali puntungnya jauh-jauh lagi.

Syukran, aku bukanlah sebatang rokok untukmu...
namun, jika sekalipun aku bukannya apa-apa bagi mu
pinta aku janganlah sesekali  aku diganggu
dengan tebaran semerbak sarbat yang kusuka
sesungguhnya itu semua hanyalah sebuah ilusi
biarkan aku nikmati sarbat dingin seorang diri

nikmat tegukannya  perlahan-lahan
rasa manis, pahit dan ketenangan itu
sambil sesekali mengibas asap rokok
yang terkadangkala memedihkan mataku ini.

Aku tidak menginginkan apa-apapun

tidak sesekali  bermaksud apa-apapun
aku hanya ingin  bersama menikmati secangkir sarbat dingin
sambil mendengar rintihan keluh kesah kisahmu,
sambil sesekali aku berlagak bijak
layaknya bak sang merak perindu agung
bertemankan cuma secangkir sarbat dingin
menikmati segala cita dan rasanya
hanya kerana aku ini
seorang yang bernama sahabat...

 
nuremyinda

No comments:

Post a Comment